BERDIRI DIANTARA AKAL DAN HAWA NAFSU
Oleh: Khalid Nusardi
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Alhamdulillahi wakafa, wahdahu
wassholatu ‘ala Rosulillahil mustafa, wa’ala alihi wamal wafa. Ashadu alla
ilaha ilallah wasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluh, wala nabiya ba’dahu.
Kama Qola ta’ala fil Qur’anil ‘aziz,
‘audzubillahi billahissami’l ‘alim, minasyyaithonirrojim allasi la’natullahi
alaih. Bismilahirrahmanirrahim.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ
ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ
وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
(Fusshilat 30)
Pada pertemuan kali ini kita akan
membahas sebuah tajuk “BERDIRI DI
ANTARA AKAL DAN HAWA NAFSU” sebagaimana yang
tertulis dalam buku Nasehat Buat Hamba Allah Karangan sekh Muhammad
Nawawi bin Umar Al-Jawi:
Sebagaimana dikatakan:
Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya
sebagai pemimpin dan hawa nafsunya sebagai tawaran. Dan Celakalah orang yang
menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin, dan akalnya sebagai tawanan.
Orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa
nafsunya menjadi tawanan, dialah orang yang beruntung dengan mendapatkan
kebaikan yang banyak. Dia mengikuti kehendak akal sehatnya yang sempurna dan
mencegah kecenderungan hawa nafsunya untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi
panggilan syara. Sementara orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin dan
akalnya menjadi tawanan adalah orang yang sangat celaka. Dialah orang yang
akalnya tidak lagi berfungsi untuk berfikir terhadap nikmat-nikmat Allah dan
mrenungkan keagungan-Nya. (Nasehat Buat Hamba Allah : Muhammad Nawawi bin Umar
Al-Jawi)
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya
Akal adalah satu-satunya hal yang membedakan Manusia dengan makhluk Allah swt
yang lain seperti hewan dan tumbuhan. Akal adalah sebuah kelebihan bagi manusia
yang digunakan sebagai alat untuk berfikir dan mempertimbangkan sesuatu.
Sebagaimana kita lihat hewan dan tumbuhan tiada memilikinya. Pernahkah kita
perhatikan bersama bahwa kebanyakan hewan allah ciptakan postur tubuhnya
sejajar antara kemaluan dan kepalanya, sebagaimana kucing, kerbau, dan lainnya,
atau setidaknya hampir mendekati kesejajaran antara kemaluan dan kepalanya. Hal
tersebut karena akal Hewan setara dengan kemaluannya, mereka memiliki otak
namun tidak memiliki akal, mereka memiliki perasaan (Naluri) namun tak memiliki
akal, selain itu bagi mereka hidup hanya untuk makan. Dalam pandangan seorang Filsuf Akal adalah
alat yang menjadi metode untuk metode berfikir untuk mencari kebenaran atas
sesuatu.
Kemudian Hawa nafsu, hawa nafsu adalah diri
kita sendiri, sebagaimana secara bahasanya nafsu yang asal katanya dari bahasa
arab Nafs yang artinya diri sendiri, kemudian Hawa yang dinisbatkan dari
siti hawa yang mana ibu dari ummat manusia yang pernah terbujuk nafsunya oleh
syetan untuk memakan buah khuldi hingga diusir dari Jannahtul Firdaus.
Orientasi Hwa nafsu bukan hanya pada konteks Seksual semata, akan tetapi
Orientasi dari hawa nafsu adalah segala hal yang mencakup keinginan, kebutuhan
dan hasrat Manusia, seperti nafsu makan, minum, ketenangan, dll.
Sebagaimana beberapa kata kata mutiara
mengatakan “Musuh terberat yang sebenarnya adalah Diri sendiri” hal tersebut
memang benar kata Diri Sendiri tersebut adalah hawa nafsu itu. Memang benar,
Perbedaan yang paling signifikan antara manusia dan malaikat adalah menusia
diciptakan dengan hawa nafsu sementara Malaikat diciptakan tanpa hawa nafsu,
hal itulah yang diciptakan Allah swt sebagai alasan apabila manusia yang
melakukan amal saleh diberi balasan yang berlipat-lipat ganda atas pahalanya
walaupun dia sering melakukan dosa selain syirik, sementara malaikat Allah swt
yang tak pernah berbuat kesalahan atau dosa yang selalu senantiasa beribadah,
bertasbih kepada Allah swt setiap detiknya hanya diberi 1 (satu) pahala atas
ibadah malaikat tersebut.
Hal itulah yang menjadikan malaikat heran
Mengapa Allah swt sangat Menyayangi Hambanya yang beribdah dan selalu mengingat
diri-Nya, hal itu karena manusia selalu berperang melawan dirinya sendiri
terlebih dahulu. Tak seperti malaikat yang tak memiliki hawa nafsu sehingga tak
ada halangan dan tantangan dalam melakukan ibadah kepada allah swt. Berdiri di
antara akal dan hawa nafsu merupakan sebuah perkara yang cukup memberatkan,
bagaimana tidak karena bagi sebagian manusia yang masih memperturutkan hawa
nafsunya sangat sulit bagi dirinya untuk mengontrol dirinya untuk menuruti hawa
nafsunya dalam hal melakukan kejahatan atau kenistaan, berbeda dengan orang
yang menjadikan akalnya sebagai pedoman dan hawa nafsunya sebagai tawaran.
Alanglkah lebih baiknya jika hidup ini dijalani dengan menempatkan hawa nafsu
sebagai tawaran, akal dijadikan sebagai pemegang kendali atas hawa nafsu tsb,
bukan sebaliknya nafsu yang dijadikan sebagai pengendali atas akal. Akal pada
dasarnya akan membuat manusia berfikir lebih logis dan relistis, sedangkan hawa
nafsu hanya akan membuat manusia sukar untuk mempertimbangkan sesuatu, yang
terpenting bagi hawa nafsu adalah memenuhi suatu keinginan tersebut apapun
caranya, karena hawa nafsu adalah media bagi syetan untuk membisikkan
kelicikannya untuk menyesatkan manusia.
Sebagaimana dalam sebuah riwayat pernah
menceritakan awal mula Allah swt menciptakan hawa nafsu yang ketika itu dia
selalu melawan allah berkali kali. Ketika allah menciptaka ruh dan allah bertanya siapa Allah dan siapa
dia, ruh menjawab Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambamu’’ sementara hawa
nafsu menjawab ‘’aku adalah aku dan engkau adalah engkau’’ kemudian Allah
melemparkannya ke api neraka untuk memberitahunya betapa amat besar kuasanya
kemudian sang Nafsu memohon ampun kemudian Allah memsangkan Nafsu ke dalam diri
manusia.
Manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya tak
ubahnya seperti binatang sebagaimana kedudukan manusia itu berpindah kebawah
menjadi lebih terhina. Namun bagi manusia yang mampu mengontrol hawa nafsunya
bahkan yang kuat dan tidak memperdulikannya tak ubahnya menjadi malaikat bahkan
lebih mulia dari malaikat sebagaimana perpindahan kedudukan manusia itu menjadi
lebih mulia dan bermartabat. Jadi, marilah kita sadari diri kita sendiri di
posisi mana kita berdiri sekarang ini, apakah kita termasuk manusia yang
berpihak pada hawa nafsu atau manusia yang berpihak pada akal. Apakah kita
manusia yang menjadikan akal sebagai pengontrol hawa nafsu, atau apakah kita
manusia yang menjadikan hawa nafsu sebagai pengontrol akal.
Allah menciptakan Syurga dengan berpagarkan
ujian dan cobaan, sementara allah menciptakan neraka berpagarkan nafsu dan
kesenangan. Dalam hakikat ini kita manusia jangan sampai lupa bahwa nafsu
hanyalah menuntun kita pada kesenangan duniawi yang fana, semua hal di dunia
yang selalu ada batasnya bersenang-senangpun suatu saat akan bosan, berjibaku
dengan kesibukan pun suatu saat akan bosan, tidak seperti kesenangan ukhrawi
yang kekal abadi. Tiada kebosanan atau kejenuhan hingga masa yang tiada pernah
ada akhirnya. Semua itu hanya bisa didapatkan dengan menekan hawa nafsu dan
mengontrol diri.
Demikian pembahasan kita kali ini, marilah kita
sama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada allah swt. sesungguhnya tiada yang
lebih baik dari itu. Semga pembahasan kali ini mendapatkan berkah dari Allah
swt dan bermanfaat bagi pembaca sekalian dan orang lain serta diri penulis
tentunya. Wabillahi taufik wal hidayah.
Wasaalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
#kkldriainpsp2020
#iainpadangsidimpuan
#pendidikansertadakwahkeagamaanislamdenganmemanfaatkanmediasosial

Mantap
BalasHapus👍 mantap
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusTarimokasima....
BalasHapus