Cari Blog Ini

Jumat, 24 Juli 2020

BERDIRI DIANTARA AKAL DAN HAWA NAFSU




BERDIRI DIANTARA AKAL DAN HAWA NAFSU

Oleh: Khalid Nusardi

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, Alhamdulillahi wakafa, wahdahu wassholatu ‘ala Rosulillahil mustafa, wa’ala alihi wamal wafa. Ashadu alla ilaha ilallah wasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluh, wala nabiya ba’dahu.

Kama Qola ta’ala fil Qur’anil ‘aziz, ‘audzubillahi billahissami’l ‘alim, minasyyaithonirrojim allasi la’natullahi alaih. Bismilahirrahmanirrahim.

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Fusshilat 30)

 

Pada pertemuan kali ini kita akan membahas sebuah tajuk “BERDIRI DI

ANTARA AKAL DAN HAWA NAFSU” sebagaimana yang tertulis dalam buku Nasehat Buat Hamba Allah Karangan sekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi:

Sebagaimana dikatakan:

Beruntunglah orang yang menjadikan akalnya sebagai pemimpin dan hawa nafsunya sebagai tawaran. Dan Celakalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin, dan akalnya sebagai tawanan.

 

Orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsunya menjadi tawanan, dialah orang yang beruntung dengan mendapatkan kebaikan yang banyak. Dia mengikuti kehendak akal sehatnya yang sempurna dan mencegah kecenderungan hawa nafsunya untuk melakukan sesuatu yang bukan menjadi panggilan syara. Sementara orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin dan akalnya menjadi tawanan adalah orang yang sangat celaka. Dialah orang yang akalnya tidak lagi berfungsi untuk berfikir terhadap nikmat-nikmat Allah dan mrenungkan keagungan-Nya. (Nasehat Buat Hamba Allah : Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi)

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwasanya Akal adalah satu-satunya hal yang membedakan Manusia dengan makhluk Allah swt yang lain seperti hewan dan tumbuhan. Akal adalah sebuah kelebihan bagi manusia yang digunakan sebagai alat untuk berfikir dan mempertimbangkan sesuatu. Sebagaimana kita lihat hewan dan tumbuhan tiada memilikinya. Pernahkah kita perhatikan bersama bahwa kebanyakan hewan allah ciptakan postur tubuhnya sejajar antara kemaluan dan kepalanya, sebagaimana kucing, kerbau, dan lainnya, atau setidaknya hampir mendekati kesejajaran antara kemaluan dan kepalanya. Hal tersebut karena akal Hewan setara dengan kemaluannya, mereka memiliki otak namun tidak memiliki akal, mereka memiliki perasaan (Naluri) namun tak memiliki akal, selain itu bagi mereka hidup hanya untuk makan.  Dalam pandangan seorang Filsuf Akal adalah alat yang menjadi metode untuk metode berfikir untuk mencari kebenaran atas sesuatu.

Kemudian Hawa nafsu, hawa nafsu adalah diri kita sendiri, sebagaimana secara bahasanya nafsu yang asal katanya dari bahasa arab Nafs yang artinya diri sendiri, kemudian Hawa yang dinisbatkan dari siti hawa yang mana ibu dari ummat manusia yang pernah terbujuk nafsunya oleh syetan untuk memakan buah khuldi hingga diusir dari Jannahtul Firdaus. Orientasi Hwa nafsu bukan hanya pada konteks Seksual semata, akan tetapi Orientasi dari hawa nafsu adalah segala hal yang mencakup keinginan, kebutuhan dan hasrat Manusia, seperti nafsu makan, minum, ketenangan, dll.

Sebagaimana beberapa kata kata mutiara mengatakan “Musuh terberat yang sebenarnya adalah Diri sendiri” hal tersebut memang benar kata Diri Sendiri tersebut adalah hawa nafsu itu. Memang benar, Perbedaan yang paling signifikan antara manusia dan malaikat adalah menusia diciptakan dengan hawa nafsu sementara Malaikat diciptakan tanpa hawa nafsu, hal itulah yang diciptakan Allah swt sebagai alasan apabila manusia yang melakukan amal saleh diberi balasan yang berlipat-lipat ganda atas pahalanya walaupun dia sering melakukan dosa selain syirik, sementara malaikat Allah swt yang tak pernah berbuat kesalahan atau dosa yang selalu senantiasa beribadah, bertasbih kepada Allah swt setiap detiknya hanya diberi 1 (satu) pahala atas ibadah malaikat tersebut.

Hal itulah yang menjadikan malaikat heran Mengapa Allah swt sangat Menyayangi Hambanya yang beribdah dan selalu mengingat diri-Nya, hal itu karena manusia selalu berperang melawan dirinya sendiri terlebih dahulu. Tak seperti malaikat yang tak memiliki hawa nafsu sehingga tak ada halangan dan tantangan dalam melakukan ibadah kepada allah swt. Berdiri di antara akal dan hawa nafsu merupakan sebuah perkara yang cukup memberatkan, bagaimana tidak karena bagi sebagian manusia yang masih memperturutkan hawa nafsunya sangat sulit bagi dirinya untuk mengontrol dirinya untuk menuruti hawa nafsunya dalam hal melakukan kejahatan atau kenistaan, berbeda dengan orang yang menjadikan akalnya sebagai pedoman dan hawa nafsunya sebagai tawaran. Alanglkah lebih baiknya jika hidup ini dijalani dengan menempatkan hawa nafsu sebagai tawaran, akal dijadikan sebagai pemegang kendali atas hawa nafsu tsb, bukan sebaliknya nafsu yang dijadikan sebagai pengendali atas akal. Akal pada dasarnya akan membuat manusia berfikir lebih logis dan relistis, sedangkan hawa nafsu hanya akan membuat manusia sukar untuk mempertimbangkan sesuatu, yang terpenting bagi hawa nafsu adalah memenuhi suatu keinginan tersebut apapun caranya, karena hawa nafsu adalah media bagi syetan untuk membisikkan kelicikannya untuk menyesatkan manusia.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat pernah menceritakan awal mula Allah swt menciptakan hawa nafsu yang ketika itu dia selalu melawan allah berkali kali. Ketika allah menciptaka  ruh dan allah bertanya siapa Allah dan siapa dia, ruh menjawab Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambamu’’ sementara hawa nafsu menjawab ‘’aku adalah aku dan engkau adalah engkau’’ kemudian Allah melemparkannya ke api neraka untuk memberitahunya betapa amat besar kuasanya kemudian sang Nafsu memohon ampun kemudian Allah memsangkan Nafsu ke dalam diri manusia.

Manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya tak ubahnya seperti binatang sebagaimana kedudukan manusia itu berpindah kebawah menjadi lebih terhina. Namun bagi manusia yang mampu mengontrol hawa nafsunya bahkan yang kuat dan tidak memperdulikannya tak ubahnya menjadi malaikat bahkan lebih mulia dari malaikat sebagaimana perpindahan kedudukan manusia itu menjadi lebih mulia dan bermartabat. Jadi, marilah kita sadari diri kita sendiri di posisi mana kita berdiri sekarang ini, apakah kita termasuk manusia yang berpihak pada hawa nafsu atau manusia yang berpihak pada akal. Apakah kita manusia yang menjadikan akal sebagai pengontrol hawa nafsu, atau apakah kita manusia yang menjadikan hawa nafsu sebagai pengontrol akal.

Allah menciptakan Syurga dengan berpagarkan ujian dan cobaan, sementara allah menciptakan neraka berpagarkan nafsu dan kesenangan. Dalam hakikat ini kita manusia jangan sampai lupa bahwa nafsu hanyalah menuntun kita pada kesenangan duniawi yang fana, semua hal di dunia yang selalu ada batasnya bersenang-senangpun suatu saat akan bosan, berjibaku dengan kesibukan pun suatu saat akan bosan, tidak seperti kesenangan ukhrawi yang kekal abadi. Tiada kebosanan atau kejenuhan hingga masa yang tiada pernah ada akhirnya. Semua itu hanya bisa didapatkan dengan menekan hawa nafsu dan mengontrol diri.

Demikian pembahasan kita kali ini, marilah kita sama-sama meningkatkan ketaqwaan kepada allah swt. sesungguhnya tiada yang lebih baik dari itu. Semga pembahasan kali ini mendapatkan berkah dari Allah swt dan bermanfaat bagi pembaca sekalian dan orang lain serta diri penulis tentunya. Wabillahi taufik wal hidayah.

 

Wasaalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

#kkldriainpsp2020

#iainpadangsidimpuan

#pendidikansertadakwahkeagamaanislamdenganmemanfaatkanmediasosial


4 komentar: