Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juli 2020

MODERASI BERAGAMA – PENGANTAR DAN IMPLEMENTASI SINGKAT DALAM MASYARAKAT



KHALID NUSARDI/1740200082/Ekonomi Syariah


Moderasi beragama, berasal dari dua kata yaitu moderasi dan beragama. Dilansir dari Suara patani.com pada judul “Islam Yang Wasathaniyyah Adalah Solusi” kata moderasi berasal dari kata latin “Moderatio” yang artinya “Kesedangan” yang artinya “Tidak Kelebihan Dan Tidak Kekurangan”, Kata itu juga berarti penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan).  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyediakan dua pengertian kata moderasi, yakni:

1. n pengurangan kekerasan, dan

2. n penghindaran keekstreman.

Jika dikatakan, “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajar, biasa-­biasa saja, dan tidak ekstrem. Sedangkan kata beragama berasal dari kata “agama” yang ditambah imbuhan “ber” ,enjadi “beragama” yang artinya “Orang-Orang Yang Memiliki Agama”

Dalam bahasa Inggris, kata moderation sering digunakan dalam pengertian average (rata-­rata) sebagai mana dalam sebuah forum “Moderator” adalah sebuah istilah untuk orang yang menjadi penengah dalam sebuah acara diskusi atau perdebatan, Moderator ialah orang yang Netral yang tidak berpihak pada sisi manapun dalam diskusi, tugasnya ialah mencari jalan tengah dari jalannya diskusi, kata Moderasi dalam bahasa inggris Moderation sering disinonimkan dengan ; core (inti), standard (baku), atau non-aligned (tidak berpihak). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan, moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara. (suara patani.com : 2019)

Dari tulisan di atas dapat kita simpulkan bahwa Moderasi Beragama artinya orang yang menganut agama dengan faham yang netral atau tdak berpihak pada faham apapun. Orang berfaham islam moderat berlawanan dengan orang yang berfaham islam radikal, atau ekstrimisme, karena berfaham moderat artinya adalah mengikuti faham kebiasaan orang-orang pada umumnya. Artinya, moderasi beragama merupakan orang orang yang mengikuti faham agama tanpa terikat pada suatu faham di luar faham agama yang independen. Sebagaimana yang telah di tulis diatas orang yang menganut suatu faham di luar faham ke-Netralan seperti radikalisme, atau ektrimisme tidak tergolong dalam moderat. Namun perlu kita ketahui istilah ekstrimisme dan radikalisme berlaku pada semua umat beragama, karena walaupun dalam konteks umat beragama sejatinya ekstrimisme dan radikalisme tidak terdapat pada ajaran atau tuntunan agama tertentu, akan tetapi ektrimisme dan radikalisme terdapat pada pola fikir orang dalam agama tertentu tersebut. Menurut saya ektrimisme dan radikalisme yang mejadi lawan dari moderat lebih tepat disebutkan sebagai metode berfikir, sehingga metode berfikir yang demikian inilah yang melahirkan pola fikir yang radikalisme dan ekstrimisme.  Jadi sangat Salah bagi orang-orang yang  beranggapan bahwa eksrtimisme dan radikalisme hanya cocok disandingkan ataudikaitkan hanya pada agama tertentu.

Moderasi beragama  saat ini di Indonesia sedang ramai diperbincangkan bahkan sampai digalangkan sebagai solusi atas masalah yang terdapat pada toleransi umat beragama. Munculnya spekulasi “Islamophobia” di dunia dan Spekulasi “islam Radikal-Radikul” di Indoesia seolah-olah menjadi momok atau memunculkan ketakutan tertentu pada kalangan masyarakat tertentu. Sehingga ada pihak-pihak yang memanfaatkan spekulasi ini untuk menjatuhkan agama islam atau mengkambingkan hitamkan, bahkan seolah-olah menjadikan agama islam ini adalah agama yang berbahaya, padahal pihak-pihak tersebutlah para ekstrimis dan radikalis yang sesungguhnya. Rasulullah saw membawa Islam hadir dunia ini sebagai rahmat bagi sebagian alam; sebagaimana firman Allah swt dalam surah al anbiya ayat 107:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Sebagaimana dalam tafsir makna dari surah al-anbiya ayat 107 ini adalah “Dan Kami tidaklah mengutus engkau -wahai Muhammad- melainkan sebagai rahmat bagi semua makhluk, disebabkan mulianya sifatmu berupa rasa komitmen dan tekad untuk memberikan hidayah pada manusia dan menyelamatkan mereka dari azab Allah”.

Islam juga adalah agama yang mengajarkan Toleransi hal ini dibuktikan dalam firman Allah swt surah al-kafirun ayat 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

Artinya: Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku

Sebagaimana dalam tafsir surah Al-Kafirun ayat 6 ini adalah: “Bagi kalian agama kalian yang telah kalian buat untuk diri kalian sendiri dan bagiku agamaku yang diturunkan Allah kepadaku”

    maka dari itu sangat salah bagi spekulasi atau orang-orang yang selalu mengarahkan islitah Intoleran terhadap umat islam, bagi saya orang-orang tersebutlah yang gagal dalam metode berfikir logis, bagaimana mungkin karena atas dasar kesalahan beberapa kelompok tertentu menjadi alasan bagi spekulasi menyalahkan ke ajarannya. Jika dikaji lebih dalam bahkan agama yang dimilikinya pula memiliki kesalahan yang sama bahkan mungkin lebih parah dari yang dituduhkannya. Hal ini jugalah yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menentang adanya Tuhan dengan mengadu domba umat beragama, orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita waspadai karena akan sangat berbahaya memunculkan perpecahan antar-umat beragama, Sejatinya semua agama mengajarkan dan menuntunkan kebaikan dan kedamaian, semakin dalam seseorang memahami agamanya maka semakin dekat ia dengan kebenaran.

#kkldriainpsp2020
#iainpadangsidimpuan

3 komentar: